Jakarta, Cakrawalasatu.com – Kita sering mengira angka ini sekali keluar langsung jadi vonis abadi. Padahal datanya terus bergerak, dimutakhirkan berkala, bahkan sudah sampai versi ketiga.
Informasi dihimpun akun koalisi Indonesia maju, mengatakan, desil Itu data yang bergerak dan tidak tetap. Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) bukan data yang difoto sekali lalu dibekukan selamanya. la terus dimutakhirkan, lewat ground check di lapangan, pembaruan dari sumber data lain seperti PLN, Pertamina, BPJS Kesehatan, sampai pemadanan otomatis dengan data kependudukan.
Setiap kali ada pembaruan, BPS melakukan pemeringkatan ulang secara periodik. Bukan sekali bukan final, tapi berkala. Buktinya bisa dilihat sendiri, sejak diluncurkan, DTSEN sudah sampai versi ketiga, masing-masing versi membawa jutaan perbaikan data dari versi sebelumnya,” ucapnya dikutip, Kamis (20/08/26).
Desil Itu naik dan turun, dua-duanya wajar. Bayangkan seseorang kehilangan pekeriaan bulan ini. Idealnya, begitu datanya diperbarui, desilnya ikut turun, karena kondisinya memang berubah jadi lebih rentan.
“Sebaliknya, bayangkan seseorang yang tahun lalu masih menyewa rumah kecil, sekarang sudah punya usaha kecil yang stabil dan aset bertambah. Wajar juga kalau desilnya naik. Desil yang bisa bergerak dua arah ini justru tanda sistemnya hidup, mengikuti perubahan nyata di lapangan, bukan tanda sistemnya kacau,” tambahnya.
Tapi kenapa kadang berubah tanpa kita sadari? Ini bagian yang sering bikin kaget. Perubahan desil tidak selalu menunggu kita mengisi formulir apa pun.
“Karena datanya dipadankan otomatis dari berbagai sumber, sebuah perubahan di satu sistem, katakanlah daya listrik rumah naik, atau kita baru terdaftar sebagai pemilik kendaraan, bisa langsung memengaruhi hasil perhitungan berikutnya, tanpa kita pernah disurvei ulang secara langsung. Ini bukan berarti sistemnya diam-diam berbuat curang. Ini konsekuensi dari sistem yang dirancang mengikuti data real-time dari berbagai sumber, bukan menunggu sensus besar setiap sepuluh tahun sekali,” ungkapnya.
Yang perlu kita tahu soal ini. Kalau desil berubah dan kita merasa itu tidak sesuai kondisi sebenarnya, itu bukan keputusan final yang tidak bisa diganggu gugat. Kita tetap bisa mengajukan koreksi kapan saja lewat aplikasi cek Bansos atau langsung ke kelurahan dan Dinas Sosial.
“Justru karena sistemnya dinamis, jangan berhenti di satu kali pengecekan lalu marah selamanya. Kalau bulan ini terasa keliru, cek lagi bulan depan setelah kita ajukan koreksi. Datanya bisa bergerak, dan itu berlaku untuk semua orang,” terangnya.
Sistem yang membeku, mencatat kondisi sekali lalu tidak pernah berubah lagi, justru lebih berbahaya. Orang yang hidupnya membaik akan terus dianggap miskin, dan orang yang hidupnya memburuk akan terus dianggap mampu.
“Jadi sebelum lanjut marah, luruskan dulu satu hal, kita bukan protes soal “desil itu ngukur ekonomi”, karena memang itu fungsinya. Yang layak diprotes adalah kalau datanya salah, atau kalau ada yang mengira desil itu vonis abadi,” jelasnya.
Desil yang bisa naik turun bukan cacat. ltu caranya negara mencoba mengikuti kenyataan hidup rakyatnya, bukan membekukannya dalam satu potret lama yang sudah tidak relevan.
“Kalau semuanya merasa di desil 1, bagaimana cara negara menyalurkan bansos ke 270 iuta rakyatnya? Apa benar kita semua ini nggak mampu lagi menghadapi hidup?,” tegasnya.







