Jakarta, Cakrawalasatu.com – Pelaksanaan Sensus Ekonomi (PSE) di lapangan, petugas dari Badan Pusat Statistik (BPS) kerap menghadapi berbagai tantangan eksternal maupun internal hingga tekanan mental, mulai dari penolakan warga yang keliru mengira petugas sebagai penagih pajak, sulitnya akses masuk ke masyarakat, di usir atau suruh pergi oleh responden, hingga beban target kerja dan tekanan psikologis.
Penolakan dan ketidakpercayaan warga memberikan data karena termakan berita bohong (Hoax) yang mengaitkan sensus dengan pajak hingga pencabutan bantuan sosial hingga merasa risih dengan banyaknya pertanyaan, atau keliru mengira petugas sensus adalah petugas pajak atau pihak penipuan.
Data yang PSE kumpulkan akan menjadi dasar pemerintah dalam menyusun berbagai kebijakan pembangunan ekonomi di masa mendatang. Mengapa masih banyak masyarakat yang menolak didata? Dan seperti apa sebenarnya perjuangan para petugas di lapangan?
Responden sulit ditemui. Kepala keluarga sering tidak berada di tempat saat didatangi karena kesibukan kerja dari pagi hingga sore hari.
Seorang petugas sensus ekonomi (PSE) berinisial RF, yang sedang melakukan sensus mengatakan, sebagian besar masyarakat dan pelaku usaha sebenarnya cukup kooperatif.
“Proses pendataan membutuhkan waktu lebih panjang, karena ini menentukan potret ekonomi secara lengkap,” ujarnya di Menteng Dalam, Tebet, Jakarta Selatan, Sabtu (22/08/26).
RF menerangkan, salah satu kendala utama adalah adanya penolakan dari sebagian masyarakat. Meski jumlahnya tidak banyak, kondisi tersebut tetap memengaruhi kecepatan pendataan.
“Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah yang menurun membuat pertanyaan mengenai kondisi ekonomi rumah tangga menjadi sangat sensitif,” terangnya.
RF menjelaskan, semua data yang dikumpulkan tidak berkaitan dengan penarikan pajak, melainkan untuk memotret kondisi ekonomi secara lebih akurat.
“Data-data itu memang harus kita laporkan. Kita perlu memahami bahwa pendataan ini penting untuk kepentingan pembangunan ekonomi ke depan. Dengan sisa waktu beberapa hari, kami fokus mengejar pendataan,” jelasnya.
RF menceritakan pada Rabu (12/08/26) lalu, saat melakukan sensus sampai di usir atau suruh pergi oleh responden.
“Jadi awalnya saya dan kader dasawisma di terima baik sama istri dari kepala keluarga diteras rumah salah satu responden di wilayah Menteng Dalam, lalu pas di pertengahan saya bertanya, suaminya (kepala keluarga) itu keluar sambil bertanya dan bilang “Sensus ya? udah saya tunggu-tunggu, mau saya usir,” katanya sambil menirukan perkataan kepala keluarga tersebut.
RF melanjutkan, bapak itu berkata masa waktu itu saya ga kerja dibilang kerja.
“Akhirnya saya jelasin, “pak, kalau ini update data sesuai dengan yang di sampaikan oleh responden”. Tapi bapak tersebut tetep usir saya dan kader dasawisma yang dampingi saya, sampai bilang mau saya viralkan atau bagaimana. Saya ga jawab cuma bilang “ya sudah kalau memang tidak mau gapapa,” lanjutnya.
RF menuturkan, saya sempet shock sampe ke responden lain saya masih nangis.
“Mungkin posisinya saya juga sudah lelah, dari RT ke RT lain untuk kejar responden,” tuturnya.
Meski hal itu terjadi, saya tetap fokus, semangat dan tetap koordinasi dengan ketua RT setempat untuk mendampingi sensus.
“Kader dasawismanya juga shock dan trauma ga mau mendampingi lagi. Jadi saya melakukan sensus dilingkungan itu selalu di dampingi oleh ketua RT setempat,” tegas RF.
RF menambahkan, pertama kali saya diperlakukan seperti ini.
“Penolakkan dari responden ada. Namun mereka menolak dengan baik. Baru sekarang ini saya di usir oleh responden sampai saya menangis,” imbuhnya.
RF mengungkapkan, kendala lain juga muncul ketika kepala keluarga tidak ada di lokasi saat saya datang, sehingga saya harus menjadwalkan ulang proses wawancara dan pengumpulan data.
“Untuk mengatasi persoalan tersebut, BPS menggandeng pemerintah daerah hingga tingkat kabupaten dan kota maupun tingkat RT. Dukungan ini dinilai membantu meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap kegiatan pendataan. Ketika dijamin dan dibantu, warga menjadi lebih nyaman untuk memberikan data,” jelasnya.







