Nias Selatan||cakrawalasatu.com – Harapan masyarakat Kecamatan Simuk, Kabupaten Nias Selatan, untuk menikmati akses listrik mulai menemukan titik terang.
Setelah bertahun-tahun hidup tanpa akses listrik PLN, masyarakat di wilayah kepulauan tersebut kini menaruh harapan pada hasil survei tapak yang dilakukan PLN UP3 Nias di sejumlah desa.
Camat Simuk, Lisius Duha, S.Pd, mengatakan survei tersebut berlangsung bersamaan dengan kunjungan kerja Wakil Bupati Nias Selatan pada Kamis, 24 September 2026.
Menurut Lisius, kunjungan Wakil Bupati tidak hanya untuk melihat kondisi pembangunan di Kecamatan Simuk, tetapi juga menjadi momentum bersama pihak PLN UP3 Nias untuk meninjau langsung sejumlah lokasi yang disiapkan masyarakat.
Baca Juga: Masih Proses Penyidikan, Lantas Sampai Mana Perkembangan Kasus Narkoba Nisel?
“Benar sekali bahwa Bapak Wakil Bupati Nias Selatan telah melakukan kunjungan kerja di Kecamatan Simuk pada Kamis, 24 September 2026. Agenda utama beliau adalah melihat keadaan pembangunan di Kecamatan Simuk, sekaligus pada kunjungan tersebut bersama dengan keterwakilan dari PLN UP3 Nias,” kata Lisius saat dikonfirmasi melalui WhatsApp, Sabtu (26/9/2026).
Ia menjelaskan, survei tapak PLN dilakukan di Desa Gobo, Desa Silina, Desa Ma’ufa, dan Desa Gondia.
Survei tersebut, kata dia, dilakukan untuk melihat kelayakan lahan yang disediakan masyarakat sebagai lokasi pembangunan fasilitas pembangkit listrik tenaga surya.
Baca Juga: Menteri Imipas dan Bappisus Sidak Lapas Cibinong, Kamar Temuan Ombudsman Tampak Kosong
“Iya, pada kunjungan tersebut ada kegiatan survei tapak PLN oleh PLN UP3 Nias. Lokasi yang disurvei yaitu Desa Gobo, Desa Silina, Desa Maufa dan Desa Gondia,” ujarnya.
Lisius menegaskan, survei itu berkaitan dengan rencana pembangunan jaringan listrik di Kecamatan Simuk.
Ironisnya, hingga saat ini Kecamatan Simuk belum dialiri listrik PLN.
“Sampai pada hari ini di Kecamatan Simuk belum dialiri listrik, artinya belum memperoleh akses tersebut,” ungkapnya.
Kondisi tersebut menjadi persoalan yang telah lama diperjuangkan pemerintah kecamatan dan masyarakat setempat.
Lisius menyebut, permohonan pembangunan listrik telah berulang kali disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Nias Selatan maupun PLN UP3 Nias. Bahkan, proposal serupa telah diajukan oleh sejumlah camat sebelumnya.
“Saya pada bulan Agustus kemarin kembali menyampaikan proposal permohonan tersebut,” katanya.
Puluhan Tahun Hidup dalam Kegelapan
Bagi masyarakat Simuk, kehadiran listrik bukan sekadar persoalan penerangan. Menurut Lisius, akses listrik berkaitan langsung dengan aktivitas ekonomi, pendidikan, pelayanan publik hingga komunikasi masyarakat.
Ia menggambarkan kondisi masyarakat Simuk selama ini sebagai kehidupan yang masih jauh dari kemudahan akses energi seperti yang dinikmati daerah lain.
“Masyarakat Simuk sangat membutuhkan penerangan/listrik mengingat selama beberapa puluh tahun kami hidup dalam kegelapan dan belum menikmati kemerdekaan yang seutuhnya,” ujar Lisius.
2.000 Warga Masih Menanti Terang
Lisius mengungkapkan, Kecamatan Simuk terdiri dari enam desa dengan jumlah penduduk sekitar 2.000 jiwa.
Terdapat sekitar 520 rumah warga yang hingga kini belum mendapatkan layanan listrik PLN. Selain permukiman masyarakat, terdapat sejumlah fasilitas publik yang juga membutuhkan dukungan listrik, yakni enam gedung sekolah, satu puskesmas, satu unit Pos Polisi, enam tempat ibadah, satu unit navigasi, serta satu unit SPPG.
Pernyataan tersebut menjadi gambaran kuat mengenai betapa pentingnya akses listrik bagi masyarakat di wilayah kepulauan tersebut.
Lisius mengatakan, dalam kunjungan Wakil Bupati bersama pihak PLN, telah disampaikan rencana tindak lanjut setelah survei tapak selesai dilakukan.
Pemerintah Kecamatan Simuk berharap tahapan tersebut dapat berlanjut pada pembangunan fisik.
“Harapan kita semua mudah-mudahan awal tahun depan pembangunan jaringan PLN di Simuk sudah bisa terealisasi,” katanya.
Ia juga menyampaikan bahwa dalam sosialisasi bersama masyarakat di Aula Katolik Santo Antonius, pihak pemerintah daerah dan PLN menyampaikan harapan agar pembangunan jaringan listrik di Simuk paling lambat mulai dilaksanakan pada awal 2027.
Namun, hingga tahap ini, informasi tersebut merupakan target atau harapan yang disampaikan dalam sosialisasi, sehingga realisasi pembangunan tetap bergantung pada tahapan teknis dan keputusan resmi pihak terkait.
Bukan Hanya Listrik
Selain listrik, Lisius mengatakan masyarakat dan pemerintah kecamatan turut menyampaikan sejumlah kebutuhan pembangunan lainnya.
Di antaranya pembangunan kantor Camat Simuk, sebab selama ini aktivitas pemerintahan kecamatan masih menumpang di bangunan Puskesmas Simuk.
Masyarakat juga mengusulkan pembangunan dermaga serta pengembangan kampung nelayan.
Menurut Lisius, pembangunan kampung nelayan diharapkan dapat mendukung aktivitas perikanan sekaligus membuka peluang peningkatan ekonomi masyarakat.
“Supaya masyarakat dapat mendapatkan ikan untuk dikonsumsi dan nelayan punya kesempatan meningkatkan perekonomiannya,” ujarnya.
Listrik Dinilai Bisa Mengubah Banyak Hal
Lisius menilai kehadiran listrik akan memberikan dampak luas bagi masyarakat Simuk.
Selain penerangan, listrik diyakini dapat mendorong aktivitas usaha masyarakat, meningkatkan produktivitas nelayan dan petani, serta mendukung proses pendidikan dan pelayanan pemerintahan berbasis teknologi.
“Dampak bagi masyarakat bila pembangunan listrik terwujud sangat luar biasa besarnya karena pertama kita tidak hidup dalam kegelapan lagi,” katanya.
Ia menyebut, akses listrik juga akan memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha kecil dan menengah.
Nelayan, kata dia, diharapkan memiliki lebih banyak peluang untuk mengembangkan aktivitasnya, sementara sektor pertanian juga dapat bergerak menuju pola yang lebih modern.
Di sektor pendidikan, ketersediaan listrik dinilai penting untuk mendukung proses belajar mengajar yang semakin membutuhkan teknologi.
Begitu pula pelayanan publik yang kini banyak menggunakan sistem digital.
Dari sisi komunikasi, Lisius mengatakan ketersediaan listrik juga diharapkan dapat mendukung optimalisasi infrastruktur telekomunikasi yang telah tersedia di Kecamatan Simuk.
Ia mencontohkan penggunaan Starlink oleh masyarakat yang saat ini masih dibatasi oleh keterbatasan sumber daya listrik.
“Dengan adanya listrik dapat digunakan siang malam. Sedangkan selama ini Starlink baru dihidupkan jam 12 siang sampai jam 12 malam karena keterbatasan arus, karena yang punya Starlink hanya menggunakan baterai,” jelasnya.
Camat: Semoga Survei Ini Benar-Benar Berujung Pembangunan
Lisius berharap survei tapak yang dilakukan PLN tidak berhenti pada tahapan perencanaan, tetapi benar-benar menjadi bagian dari proses pembangunan listrik di Kecamatan Simuk.
Ia juga menyinggung posisi Simuk sebagai wilayah kepulauan yang menurutnya membutuhkan perhatian khusus dalam pemerataan pembangunan.
“Harapan kami baik pemerintah dan masyarakat Simuk mudah-mudahan survei ini merupakan bagian konkret pembangunan listrik di Simuk,” katanya.
Pemerintah Kecamatan Simuk, lanjutnya, menyatakan siap memenuhi berbagai persyaratan yang diperlukan sebagai bentuk dukungan terhadap rencana tersebut.
“Kami akan melakukan dan melaksanakan segala persyaratan yang diminta sebagai bentuk dukungan masyarakat dan pemerintah kecamatan dan desa,” ujarnya.
Lisius juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Nias Selatan dan PLN UP3 Nias yang telah datang langsung melihat kondisi masyarakat Simuk.
“Kami akan selalu mengingat bahwa pemerintah dan PLN UP3 Nias masih peduli dengan nasib kami di Kecamatan Simuk,” katanya.
Untuk diketahui, dokumen RPJMD Kabupaten Nias Selatan 2025–2029 menempatkan perluasan jaringan listrik ke wilayah terpencil sebagai salah satu prioritas pembangunan infrastruktur dasar. Dokumen tersebut juga mengakui bahwa masih terdapat wilayah di Nias Selatan yang belum menikmati akses listrik secara memadai, dengan kondisi geografis kepulauan menjadi salah satu tantangan penyediaan infrastruktur.
Dengan demikian, hasil survei tapak di empat desa di Kecamatan Simuk kini menjadi salah satu tahapan yang dinantikan masyarakat.
Bagi warga Simuk, harapannya sederhana: bukan lagi sekadar melihat survei dan mendengar rencana, tetapi benar-benar dapat menikmati terang listrik di rumah, sekolah, tempat usaha, fasilitas pelayanan publik, hingga ruang-ruang kehidupan sehari-hari.
Sebab, setelah puluhan tahun menunggu, masyarakat Simuk kini menanti apakah harapan yang kembali muncul pada September 2026 itu benar-benar akan berubah menjadi pembangunan nyata pada 2027.







