Nias Selatan, cakrawalasatu.com –Jagat maya kembali dihebohkan oleh video dramatis yang mengklaim seorang pelatih lumba-lumba bernama Jessica Radcliffe tewas ditelan paus orca saat pertunjukan. Tayangan itu viral di TikTok, Facebook, hingga WhatsApp, membuat banyak warganet terkejut dan prihatin.
Namun, hasil penelusuran suara.com yang dikutip oleh cakrawalasatu.com membuktikan kabar tersebut tidak benar. Tidak ditemukan bukti resmi, laporan kecelakaan kerja, atau pernyataan dari pihak taman hiburan yang membenarkan adanya peristiwa itu.
Baca Juga: Kapolres Nias Selatan Tegaskan Proses Hukum dan Himbau Etika Berbagi Konten Kecelakaan
Video yang beredar ternyata hasil manipulasi kecerdasan buatan (AI). Gambar dan narasinya merupakan gabungan cuplikan lama pertunjukan paus orca dan lumba-lumba yang dipoles dengan efek visual agar tampak meyakinkan. Bahkan, ada klaim tambahan bahwa paus menyerang karena terpicu darah menstruasi, informasi yang sama sekali tidak memiliki dasar ilmiah.
Media internasional seperti Hindustan Times dan The Star Kenya juga menegaskan bahwa peristiwa ini fiktif. Fenomena ini memanfaatkan tragedi nyata masa lalu, seperti kematian pelatih Dawn Brancheau (2010) dan Alexis Martínez (2009), untuk memberikan kesan seolah insiden tersebut benar-benar terjadi.
Baca Juga: Dua Pelajar SMP Tewas dalam Kecelakaan Maut di Jalan Umum Desa Bawozaua, Teluk Dalam
Direktur PT. Karya Onira Bersama, Arisman Zalukhu, memberikan penegasan keras terkait fenomena ini. Ia mengingatkan bahwa perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan, telah menciptakan tantangan besar bagi dunia pers dan masyarakat luas dalam memilah informasi yang benar dan yang palsu.
“Kita hidup di era di mana kebohongan bisa dikemas sedemikian rupa sehingga tampak seperti kebenaran. Video yang memanfaatkan teknologi AI seperti kasus Jessica Radcliffe ini adalah contoh nyata betapa mudahnya publik terjebak dalam narasi yang direkayasa. Dampaknya bukan hanya menyesatkan, tetapi juga bisa merusak kepercayaan masyarakat terhadap media dan informasi resmi,” ujar Arisman, pada Senin (11/8/2025).
Baca Juga: Bungkam Saat Dikonfirmasi, Kades Orahili Boe Dilaporkan atas Dugaan Korupsi Dana Desa
“Karena itu, saya mengajak semua pihak untuk selalu mengedepankan prinsip verifikasi sebelum menyebarkan informasi. Media harus bertanggung jawab dalam setiap konten yang dipublikasikan, dan masyarakat pun wajib kritis. Jangan sampai kita menjadi bagian dari rantai penyebar hoaks hanya karena tergoda oleh judul sensasional atau visual dramatis,” tambahnya.
Arisman juga menegaskan bahwa pihaknya di PT. Karya Onira Bersama berkomitmen penuh untuk menjalankan kode etik jurnalistik, termasuk memastikan setiap berita yang tayang telah melalui proses pengecekan fakta secara menyeluruh dan bersumber dari narasumber yang kredibel.
Sebagai media lokal yang tumbuh bersama masyarakat cakrawalasatu.com diharapkan menjadi garda terdepan dalam menangkal hoaks di daerah. Arisman menilai media lokal memiliki posisi strategis karena dekat dengan sumber informasi di lapangan dan dapat memberikan klarifikasi cepat sebelum berita bohong berkembang liar.
“Media lokal punya kekuatan unik: kedekatan dengan fakta. Itu modal besar untuk menjaga ketertiban informasi. Kami di PT. Karya Onira Bersama ingin memastikan cakrawalasatu.com menjadi contoh media yang mengedepankan kebenaran, bukan sekadar kecepatan,” tutupnya







