Nias Selatan. Cakrawalasatu.com – Pemerintah Kabupaten Nias Selatan melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) memperkuat kesiapsiagaan dan mempercepat penanganan banjir serta tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah dalam beberapa hari terakhir. Status tanggap darurat bencana telah ditetapkan selama 14 hari untuk memastikan seluruh proses penyelamatan, asesmen, dan pelayanan darurat berjalan secara terkoordinasi.
Kepala Pelaksana BPBD Nias Selatan, Arozatulo Maduwu, menjelaskan bahwa penetapan status tersebut mencakup 17 kecamatan terdampak, antara lain Hilimegai, Susua, Aramo, Boronadu, Gomo, Mazino, Onolalu, Huruna, Ulunoyo, Teluk Dalam, Fanayama, Luahagundre Maniamolo, Maniamolo, Lahusa, Ulu Idanotae, Idanotae, dan Mazo. Menurutnya, peningkatan intensitas hujan telah menimbulkan banjir, longsor, serta kerusakan infrastruktur yang berdampak pada mobilitas masyarakat.
Arozatulo mengatakan bahwa BPBD terus memperbarui informasi meteorologis melalui koordinasi dengan BMKG Stasiun Meteorologi Binaka. Berdasarkan pemantauan citra satelit, wilayah Kepulauan Nias masih berada dalam rentang potensi hujan sedang hingga lebat.
“Informasi dari BMKG kami teruskan kepada masyarakat dan pemerintah kecamatan sebagai langkah peringatan dini untuk meningkatkan kewaspadaan,” ujarnya Jumat (12/12/2025).
BPBD melaporkan sejumlah kerusakan signifikan di beberapa desa, di antaranya isolasi akses di wilayah Kecamatan Hilimegai dan kerusakan satu rumah warga. Di Kecamatan Boronadu, banjir dan longsor menyebabkan kerusakan bangunan pengaman tebing Sungai Gomo, memutus akses jalan, serta merusak empat rumah warga. Tim BPBD bersama Bina Marga dari Dinas PUTR diturunkan untuk melakukan asesmen dan penanganan awal, termasuk di lokasi longsor di Sungai Susua, Desa Na’ai, Kecamatan Siduaori. Kehadiran tim pemerintah daerah disambut antusias warga setempat dan turut dipantau oleh jajaran kepolisian untuk memastikan keamanan pelaksanaan di lapangan.
Dalam masa tanggap darurat, BPBD menjalankan serangkaian langkah prioritas yang meliputi evakuasi warga terdampak, pendirian posko pengungsian, distribusi logistik bantuan, penilaian kerusakan, serta pemulihan sarana dasar.
“Pembukaan akses jalan menjadi prioritas utama agar bantuan dapat menjangkau seluruh desa terdampak tanpa hambatan,” tegas Arozatulo.
Kesiapsiagaan lintas sektor juga ditingkatkan melalui apel siaga bencana yang sudah digelar di Mapolres Nias Selatan yang dipimpin Kapolres AKBP Ferry Mulyana Sunarya. Apel tersebut diikuti unsur TNI, Polri, Satpol PP, Damkar, BPBD, serta siswa PKS.
Selain penanganan jangka pendek, BPBD bersama Polres Nias Selatan akan melaksanakan program sosialisasi evakuasi aman dan edukasi kebencanaan. Program tersebut mencakup deteksi dini, pemetaan risiko, penyampaian imbauan, pengecekan sarana prasarana darurat, simulasi rutin, peningkatan respons cepat, evaluasi berkelanjutan, dan koordinasi lintas sektor.
“Sinergi antarinstansi menjadi kunci keberhasilan penanganan bencana. Kami memastikan koordinasi berjalan intensif di semua tingkatan,” kata Arozatulo.
BPBD mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, menghindari kawasan rawan longsor, dan segera melaporkan potensi bahaya kepada pemerintah desa, kecamatan, atau petugas terdekat. Pemerintah daerah menyatakan seluruh personel dan peralatan tetap siaga untuk mengantisipasi kemungkinan peningkatan intensitas hujan dalam beberapa hari ke depan.













