Jakarta, Cakrawalasatu.com – Mei 2026 menjadi bulan terburuk dimana rupiah mencapai rekor terlemahnya dengan menembus angka Rp17.600 per dolar AS. Pelemahan ini memiliki sejumlah efek domino bagi masyarakat kita, terutama naiknya harga sembako serta menurunnya daya beli.
Informasi dihimpun berbagai sumber, Per pertengahan Mei 2026, nilai tukar rupiah ambruk hingga menembus Rp17.600 per dolar AS. Faktor global seperti lonjakan harga minyak mentah dunia (Brent di atas $110/barel) dan ketidakpastian pasar bikin mata uang kita tertekan hebat.
“Harga sembako dan kebutuhan pokok naik. Indonesia masih bergantung pada impor untuk komoditas seperti kedelai, gandum, hingga bumbu dapur. Karena importir beli pakai dolar, otomatis biaya modal naik. Dampak ujungnya? Harga tahu, tempe, mie instan, dan pangan lainnya di pasar domestik akan ikut naik,” dikutip di Jakarta, Senin (18/05/26).
Harga BBM dan ongkos transportasi umum (Transum) terancam naik. Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) memperingatkan bahwa pelemahan rupiah berisiko memicu kenaikan biaya transportasi dan energi.
“Tingginya harga minyak dunia yang dibeli dengan dolar membuat beban subsidi energi membengkak, yang bisa berdampak pada penyesuaian tarif di masyarakat,” ucapnya.
Harga gadget dan barang elektronik akan semakin mahal. Sektor elektronik sangat bergantung pada komponen impor. Menurut Analisis Investopedia dan Kompas Ekonomi pada Mei 2026, saat rupiah melemah, biaya produksi atau impor barang jadi otomatis membengkak.
“Hal inilah yang membuat barang elektronik akan semakin mahal dalam beberapa waktu ke depan,” ungkapnya.
Daya beli semakin menurun. Ketika harga barang-barang naik akibat inflasi barang impor sementara gaji segitu-gitu aja artinya daya beli turun.
“Uang Rp100 ribu yang kamu pegang sekarang dapat barang yang lebih sedikit dibanding bulan lalu,” terangnya.
Biaya pendidikan akan semakin mahal.
“Dampaknya meluas hingga sektor pendidikan tinggi, menurut riset dari UNESA, biaya langganan database Ilmiah internasional (seperti Scopus), pembelian software riset, hingga biaya publikasi jurnal internasional bagi dosen dan mahasiswa S3 meroket tajam karena semuanya dibayar menggunakan dolar AS,” jelasnya. (*)













