Demo Hardiknas, Massa Aksi Bentrok Dengan Aparat Kepolisian

Mahasiswa Mendobrak Barikade Besi Polisi Yang Tingginya Sekitar 2,5 Meter dan Membakar Ban

Jakarta, Cakrawalasatu.com – Bentrokan antara massa dari Aliansi BEM Seluruh Indonesia (BEM SI) dengan aparat kepolisian yang berjaga dalam unjuk rasa hari pendidikan nasional (Hardiknas) di Jalan Merdeka Selatan, Gambir, Jakarta Pusat, Sabtu (02/05/26) sore.

Bentrokan itu diawali oleh protes mahasiswa yang tidak diperbolehkan untuk menggelar aksi di depan Istana Negara. Sekitar pukul 16.50 WIB, sejumlah mahasiswa mendobrak barikade besi polisi yang tingginya sekitar kurang lebih 2,5 meter.

Selain mendobrak barikade, sejumlah massa juga membakar ban. Sontak, polisi yang berjaga kemudian keluar dari barikade dan menyemprotkan Alat Pemadam Api Ringan (APAR).

Mahasiswa yang berada di barisan depan pun sempat berhamburan karena menduga asap yang timbul adalah gas air mata. Namun, massa kemudian kembali maju ke depan dan terlibat bentrok langsung dengan polisi.

Aksi saling dorong terjadi dengan polisi yang berada di sisi kiri, beberapa mahasiswa dan polisi juga terlihat mencoba saling dorong dan memukul satu sama lain.

Koordinator Pusat Aliansi BEM SI, Muzammil Ihsan, menjelaskan bahwa pembubaran massa pada Sabtu sore bukanlah akhir dari perjuangan mereka.

“Absennya perwakilan pemerintah yang bersedia menemui mahasiswa untuk mendengarkan aspirasi terkait karut-marut dunia pendidikan. Sumber Daya Pendidikan. Karena hari ini aksi kami tidak diterima, tidak ada yang mendengarkan kami, tidak ada pejabat yang mau menemui kami, maka hari Senin kami akan kembali lagi,” jelas Muzammil dengan lantang dari atas mobil komando.

Lebih lanjut, pihak BEM SI menjanjikan gelombang massa yang jauh lebih besar pada awal pekan depan.

“Kami akan terus ada dan berlipat ganda dengan eskalasi yang lebih besar,” imbuhnya di hadapan ribuan mahasiswa yang memadati kawasan Monas.

Selain BEM SI, sejumlah aliansi besar lainnya juga menunjukkan solidaritas yang sama. Pembacaan pernyataan sikap dilakukan secara bergantian oleh para pemimpin organisasi mahasiswa, di antaranya :

Yogi Alaydrus (Koordinator Pusat BEM Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah Indonesia) serta Muhammad Rafli (Koordinator Pusat Dema PTKIN).

Ketidakhadiran pejabat pemerintah di tengah aksi Hardiknas 2026 ini dianggap sebagai simbol ketidakpedulian negara terhadap 10 tuntutan krusial yang dibawa mahasiswa, mulai dari isu anggaran pendidikan hingga kesejahteraan guru honorer.

Sebelum membubarkan diri secara tertib, Aliansi BEM SI membacakan pernyataan sikap yang memuat 10 poin tuntutan utama bagi sektor pendidikan Indonesia :

1. Reformasi Anggaran : Hentikan komersialisasi pendidikan dan benahi tata kelola anggaran.

2. Perlindungan Kekerasan Seksual : Evaluasi Permendikbud No. 55 Tahun 2024.

3. Prioritas Substantif : Pendidikan harus jadi prioritas utama, bukan sekadar formalitas.

4. Pemerataan Akses : Jamin kualitas pendidikan hingga ke daerah 3T.

5. Kesejahteraan Guru : Tingkatkan gaji dan kepastian status guru honorer.

6. Rehabilitasi Sekolah : Perbaiki ribuan bangunan sekolah yang rusak di seluruh RI.

7. Kebijakan Berbasis Data : Konsistensi kebijakan pendidikan nasional.

8. Pendidikan Karakter : Penguatan nilai berbasis kearifan lokal.

9. Transparansi Anggaran : Pengawasan ketat pada distribusi dana pendidikan.

10. Revisi UU Sisdiknas : Mendesak pelibatan masyarakat sipil dalam pembahasan undang-undang.

Setelah massa mahasiswa membubarkan diri ke arah IRTI Monas, Jalan Medan Merdeka Selatan yang sempat ditutup total akhirnya kembali dibuka oleh pihak kepolisian.

Meskipun arus lalu lintas telah pulih, pihak kepolisian tetap bersiaga mengantisipasi rencana aksi susulan pada Senin pekan depan.

Masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi terkini mengenai pengalihan arus lalu lintas di kawasan Istana Negara dan Monas menjelang unjuk rasa susulan tersebut. (*)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan