Nias Selatan||CSC – Mantan Komandan Batalion Zeni Tempur (Danyon Zipur), Mayor Jenderal TNI (Purn.) Drs. Cristian Zebua, MM, menegaskan bahwa jembatan Bailey yang dibangun melalui program Karya Bakti TNI di wilayah Kodim 0213/Nias, termasuk di Sungai Gomo, aman dan layak digunakan sesuai ketentuan teknis.
Penegasan tersebut disampaikan Cristian melalui pernyataan yang diunggah di laman Facebook Kodim 0213 & Jajaran, Jumat (6/2/2026) sekitar pukul 16.20 WIB, merespons perbincangan publik terkait kondisi dan kelayakan jembatan tersebut.
Cristian menjelaskan, jembatan Bailey merupakan jembatan darurat yang dipasang untuk menjawab kebutuhan mendesak masyarakat, terutama guna menjaga konektivitas wilayah, sembari menunggu pembangunan jembatan permanen oleh pemerintah.
“Jembatan Bailey itu sifatnya sementara dan darurat. Dipasang untuk mempercepat akses masyarakat sebelum jembatan permanen dibangun. Ketika jembatan permanen sudah tersedia, jembatan ini akan dibongkar dan digunakan di lokasi lain yang membutuhkan,” ujar Cristian.
Baca Juga: Jembatan Bailey di Gomo Tuai Sorotan, OPD Teknis Nilai Belum Penuhi Standar Kelayakan
Sebagai mantan perwira Zeni Tempur, Cristian menegaskan bahwa pemasangan jembatan Bailey dilakukan oleh personel yang memiliki kompetensi teknis, dengan perhitungan standar keselamatan yang jelas. Setiap jembatan dipasang menggunakan konfigurasi tertentu, seperti sistem 1-1, 2-1, atau 3-1, yang masing-masing telah ditetapkan daya dukungnya.
Ia menambahkan, setelah pemasangan selesai, pihak pelaksana akan menetapkan batas tonase kendaraan yang boleh melintas sesuai ketentuan teknis yang berlaku.
Baca Juga: Satpol PP Damkar Padang Pariaman Gelar Operasi Penertiban Tempat Hiburan Malam di Batang Anai
“Batas tonase itu ditentukan secara jelas dan tidak sembarangan. Semua sudah dihitung oleh tenaga ahli,” katanya.
Cristian juga menyampaikan permohonan maaf kepada TNI Angkatan Darat atas munculnya keraguan sebagian masyarakat terkait kelayakan jembatan Bailey. Menurut dia, keraguan tersebut lebih disebabkan oleh keterbatasan pemahaman teknis, bukan karena adanya niat menolak program Karya Bakti TNI.
“Atas nama masyarakat Nias, saya mohon maaf apabila ada pernyataan yang muncul karena ketidaktahuan. Tidak ada niat menolak atau mencurigai program ini,” ujarnya.
Diberitakan sebelumnya, pemerintah daerah menyampaikan sikap kehati-hatian terkait kondisi fisik jembatan Bailey di Sungai Gomo. Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kabupaten Nias Selatan, Kasiaro Ndruru, menyebutkan bahwa perbedaan pandangan muncul karena sejak awal pemerintah daerah memahami pembangunan tersebut sebagai pembangunan jembatan baru dengan material baru.
“Pada tahap awal, kami menolak opsi jembatan gantung. Informasi yang kami terima saat itu adalah pembangunan jembatan Bailey yang bisa dilewati kendaraan. Pemahaman kami jelas, jembatan baru dengan material baru,” ujar Kasiaro saat dikonfirmasi di ruang kerjanya di Jalan Saonigeho KM 3, Kecamatan Fanayama, Senin (2/2/2026).
Setelah dilakukan peninjauan lapangan, pemerintah daerah mencatat adanya perbedaan antara ekspektasi awal dan kondisi fisik jembatan di lapangan. Dari sudut pandang teknis pemerintah daerah, aspek keselamatan menjadi perhatian utama, sehingga diperlukan kehati-hatian dalam memastikan kelayakan penggunaan jembatan untuk jangka menengah hingga panjang.
Pemerintah daerah menegaskan bahwa keterlibatan mereka dalam proyek tersebut lebih bersifat fasilitasi, sementara perencanaan dan pelaksanaan teknis berada di luar kewenangan daerah. Meski demikian, pemerintah daerah menyatakan siap membangun jembatan permanen dengan standar yang sesuai apabila solusi darurat yang ada dinilai belum sepenuhnya menjawab kebutuhan masyarakat.










