Viral di Facebook, MBG Klarifikasi Dugaan Makanan Basi di SMK Negeri 1 Teluk Dalam

Pihak penyedia gizi akui ada kelalaian teknis dan berjanji memperbaiki manajemen dapur agar mutu makanan tetap terjaga.

Berita Terkini, Daerah2526 Dilihat

Nias Selatan||cakrawalasatu.com – Sebuah video dan unggahan di media sosial Facebook pada Kamis (30/10/2025) menghebohkan publik di Kabupaten Nias Selatan. Dalam unggahan tersebut, tampak sejumlah siswa SMK Negeri 1 Teluk Dalam mengeluhkan makanan yang disediakan oleh penyedia Makan Bergizi Gratis (MBG) karena diduga basi dan berbau tidak sedap.

Unggahan itu dengan cepat menyebar luas dan menuai berbagai komentar warganet yang menyoroti kualitas dapur penyedia makanan tersebut. Dalam unggahan video itu, disebutkan bahwa makanan tersebut tidak dikonsumsi oleh para siswa dan sebagian dikembalikan ke penyedia.

Baca Juga: Tembok Pembatas TPU Jeruk Purut Roboh Diduga Imbas Hujan Deras

Menindaklanjuti isu yang beredar, Redaksi cakrawalasatu.com melakukan konfirmasi resmi kepada pihak Yayasan Generasi Sehat Patrindo Niha Raya Sejahtera, lembaga pengelola program penyedia makanan bergizi di bawah SPPG MBG, untuk memastikan kebenaran informasi yang beredar.

Klarifikasi Resmi dari Kepala SPPG MBG

Dalam keterangannya, Kepala SPPG MBG, Egilius Zamili, membenarkan bahwa pihaknya menerima keluhan dari pihak sekolah mengenai beberapa porsi makanan yang diduga basi. Namun, ia menegaskan bahwa tidak semua makanan dalam kondisi tidak layak konsumsi, dan tidak benar jika seluruh makanan dikembalikan ke dapur.

Baca Juga: Bawaslu Nias Selatan Teguhkan Komitmen Penguatan Kelembagaan Pengawas Pemilu Bersama Mitra Strategis

“Benar, hari ini kami menerima keluhan dari pihak SMK Negeri 1 Teluk Dalam terkait adanya beberapa porsi makanan yang terindikasi basi. Namun, informasi yang menyebutkan semua makanan dikembalikan tidak benar. Tidak ada surat resmi pengembalian dari pihak sekolah,” ujar Egilius Zamili dalam klarifikasinya, Kamis (30/10/2025) malam.

Menurutnya, jumlah pasti makanan yang terindikasi basi masih dalam tahap pendataan, karena komunikasi awal dilakukan langsung oleh pihak sekolah dan perwakilan yayasan di lapangan.

Baca Juga: Membangun Kemitraan Polisi dan Pokdarkamtibmas, Polres Metro Jakarta Selatan Berikan Binluh Harkamtibmas

“Kami sudah menjemput makanan yang terindikasi basi bersamaan dengan omprengan kosong yang sudah dikonsumsi siswa. Kami juga telah menggantinya dengan makanan baru yang layak dikonsumsi,” terangnya.

Dugaan Kelalaian Teknis dan Komitmen Perbaikan

Egilius mengungkapkan bahwa berdasarkan pemeriksaan internal, penyebab terjadinya sebagian makanan basi disebabkan oleh kesalahan teknis dalam penyajian ikan bergulai, yang mengandung kuah sehingga lebih cepat rusak bila tidak segera dikonsumsi.

“Dari hasil pengecekan, kami mendapati kelalaian pada proses penyajian ikan bergulai. Kuahnya mempercepat proses pembusukan. Ini menjadi evaluasi bagi kami agar ke depan menu dan waktu distribusi lebih kami perhatikan,” katanya.

Pihak MBG, lanjut Egilius, segera melakukan pembenahan menyeluruh pada prosedur higienitas, waktu distribusi, dan penyimpanan makanan, termasuk memperketat pengawasan dapur mitra yang terlibat dalam pengolahan makanan.

“Kami sudah memperbaiki beberapa kelalaian sebelumnya dan akan terus memperketat SOP. Bila kejadian serupa terulang, dapur yang bersangkutan akan dievaluasi bahkan bisa dikenakan sanksi berat,” tegasnya.

Latar Belakang dan Pengawasan Mutu

Kasus ini bukan yang pertama. Berdasarkan penelusuran redaksi, sebelumnya penyedia yang sama pernah mendapat keluhan serupa, seperti temuan rambut dalam makanan dan dugaan adanya ulat larva di salah satu sekolah dasar pada waktu berbeda.

Rangkaian keluhan tersebut menimbulkan sorotan publik terhadap kualitas dan pengawasan dapur MBG, yang mengelola penyediaan makanan bergizi bagi sejumlah sekolah di Kabupaten Nias Selatan.